Senin, 27 Februari 2012
Berita Penerbangan: Bandara Adisucipto Akan Dipindah Dua lokasi dijadikan alternatif pembangunan bandara bertaraf internasional itu
Berita Penerbangan: Bandara Adisucipto Akan Dipindah Dua lokasi dijadikan alternatif pembangunan bandara bertaraf internasional itu: Bandara Adisucipto Akan Dipindah Dua lokasi dijadikan alternatif pembangunan bandara bertaraf internasional itu
Menghindari Mabuk Udara
Perjalanan panjang menggunakan jasa pesawat terbang bisa menjadi
saat-saat yang menyenangkan, tetapi untuk sebagian orang, beberapa jam
di dalam pesawat terbang bisa menjadi sedikit bencana. Hal ini bisa
disebabkan karena rasa mual dan sakit kepala yang melanda akibat
ketidakseimbangan kondisi tubuh dan stamina yang harus dipersiapkan
selama perjalanan.Kondisi mual dan mabuk perjalanan ini tentunya akan menyiksa selama perjalanan di pesawat terbang. Anda tidak bisa mencari udara segar apalagi turun dari pesawat yang telah terbang di angkasa. Untuk mencegah hal tersebut, ada beberapa cara yang bisa Anda persiapkan untuk mencegah terjadinya mabuk perjalanan di pesawat terbang.
1. Sediakan Peppermint
Aroma peppermint terbukti baik untuk mencegah rasa mual dan mabuk perjalanan. Sebelum Anda terbang, sediakan minyak aroma peppermint atau sediakan permen dengan rasa peppermint yang bisa menemani perjalanan Anda.
2. Hindari Gula Dan Karbohidrat
Mengonsumsi banyak gula dan karbohidrat akan membuat lonjakan adrenaline selama perjalanan Anda. Sehingga hal tersebut tidak hanya membuat Anda merasa mual dan sakit, tetapi juga menjadi panik. Jika Anda ingin makan sebelum perjalanan, pilih makanan yang mengandung protein tinggi, sayuran dan rendah karbohidrat.
3. Bawa Buah Pala
Saat Anda mulai merasakan perasaan mual dan badan tidak enak dalam perjalanan, letakkan setengah biji pala di bawah lidah Anda. Buah pala bisa membuat Anda lebih tenang dan aliran darah lebih lancar. Karena itu, Anda bisa menyiapkan pala dari rumah.
4. Hisap Es Batu
Tidak ada persiapan saat mabuk datang? Minta beberapa potong kecil es batu pada pramugari. Anda bisa menghisap es batu tersebut sebagai penolong lambung Anda untuk mengencerkan asam yang menyebabkan perasaan mual.
5. Dekat Atau Jauh Dari Jendela
Jendela bisa menjadi media yang menyenangkan sekaligus menyeramkan bagi sebagian orang. Jika Anda tidak bermasalah melihat ketinggian dan senang menikmati pemandangan di bawah sana, maka Anda bisa memilih atau bertukar bangku dengan penumpang yang duduk di sebelah jendela, melihat pemandangan bisa menenangkan Anda. Tetapi bila Anda bermasalah dan takut dengan ketinggian, maka jauhkan diri Anda dari jendela, atau tutup saja jendela pesawat agar Anda tidak semakin panik dan cemas yang bisa memicu serangan mual.
Itu dia beberapa pilihan cara mengurangi serangan mabuk perjalanan selama berada di dalam pesawat terbang. Sekarang dengan berbagai persiapan, Anda tidak perlu khawatir akan serangan mabuk perjalanan dan bisa mendarat dengan tubuh yang segar. Selamat menikmati perjalanan Anda
Minggu, 26 Februari 2012
12 Tips Naik Pesawat Bersama Anak
Persiapan dan Kiat Naik Pesawat Bersama Balita. Tak sedikit orang tua
mengalami stres saat mengajak balita dalam penerbangan. Karena balita
yang sedang aktif tak mau tenang selama dalam perjalanan. Belum lagi
timbul kerepotan-kerepotan yang lainnya. Naik pesawat bersama balita
diperlukan beberapa persiapan dan kiat tersendiri. Agar acara
penerbangan lancar dan menjadi kegiatan yang menyenangkan.1. Jika Ada terbang jarak jauh dengan bayi, mintalah kursi sekat dan siapkan tempat tidur bayi sebelum penerbangan. Bassinet dapat digunakan untuk anak hingga usia 18 bulan, namun paling cocok untuk bayi di bawah delapan bulan.
2. Jika Anda sedang hamil lebih dari 24 minggu, pastikan mendapat surat keterangan dari dokter atau bidan yang menyatakan Anda layak terbang.
3. Sampailah ke bandara lebih awal sebelum penerbangan. Agar Anda tidak lari tergesa-gesa sambil menyeret banyak koper dan menggendong atau menggandeng anak karena mepet dengan jam penerbagan. Hal ini bisa menjadikan stres dan kelelahan.
4. Di dalam pesawat, jangan berharap Anda dapat membaca buku atau novel favorit, jika balita ikut serta. Anggaplah sebagai bonus jika memang Anda mendapat kesempatan tersebut.
5. Ingat, di dalam pesawat Anda tidak boleh membawa tempat air atau makanan lebih besar dari ukuran 100 ml. Susu dan makanan bayi diperbolehkan, namun Anda akan diminta untuk mencicipinya.
6. Jika membawa bayi, ambil kain gendongan dan kereta ringan – karena Anda tidak akan selalu mendapatkannya kembali saat di pintu pesawat.
7. Periksa bagasi dan hand baggage allowances di situs maskapai penerbagan Anda. Mencoba mengepak ulang dengan kepanikan di bandara bukan suatu hal yang menyenangkan.
8. Bawa popok lebih banyak, karena perubahan tekanan udara bisa mengakibatkan gangguan pada perut bayi.
9. Beri makan bayi Anda saat sudah lepas landas dan mendarat untuk mencegah sakit telinga. Anda bisa memberinya permen anak-anak atau sesuatu yang dapat mereka hisap.
10. Bawa beberapa mainan ukuran kecil, seperti kertas mewarnai atau buku bergambar. Bagi balita yang sudah lebih besar biarkan mereka bermain game komputer selama mereka suka.
11. Makanan airline masih kurang ramah untuk anak-anak dan harganya juga mahal. Bawa beberapa makanan ringan yang tidak lengket. Dan jangan membawa minuman dalam kemasan karton karena bisa menyemprot ke mana-mana dan tidak bisa ditutup kembali setelah dibuka.
12. Jika Anda membawa anak-anak kecil dalam penerbangan panjang, bawakan baju piyama untuk watu malam. Jangan terlalu kawatir tentang jet lag, anak mengalaminya lebih sedikit dibanding orang dewasa.
Bom Waktu di Industri Penerbangan Indonesia
Agus Pambagio - detikNews
Senin, 27/02/2012 10:15 WIB
Jakarta
Perkembangan bisnis angkutan udara di Indonesia
merupakan salah satu sektor yang tinggi pertumbuhannya, termasuk
pertambahan jumlah armada pesawat. Pertumbuhan ini harus diikuti dengan
pertumbuhan beberapa sektor industri lain yang terkait, termasuk sumber
daya manusia (SDM), bandara, ground handling, dan regulasi.Kepadatan di beberapa bandara utama di Indonesia sudah sangat mengganggu dan membahayakan keselamatan publik, termasuk penumpang, pesawat dan awak kabin. Baik yang sedang mengudara, mendarat, tinggal landas maupun yang sedang parkir atau harus segera mendapatkan perawatan di hanggar.
Diizinkannya maskapai penerbangan melakukan self handling untuk penumpang dan cargo, khususnya maskapai penerbangan low cost, sering tidak sesuai dengan standar keselamatan dan ini dapat membahayakan pesawat dan konsumen. Kurangnya sumber daya manusia (SDM) di industri penerbangan di seluruh maskapai penerbangan, bandara termasuk Air Traffic Control (ATC), dan di regulator khususnya di Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah membuat keselamatan penerbangan Indonesia dipertaruhkan. Lalu apa yang harus dilakukan oleh semua pemangku kepentingan industri penerbangan?
Maksimalisasi Armada dan Masalah Penunjang
Sinkronisasi antara pertumbuhan armada atau pesawat harus berbanding lurus dengan perkembangan industri penunjang penerbangan lainnya, termasuk SDM, bandara, ground handling, dan regulator. Garuda Indonesia (GA) sebagai maskapai full service dan Lion Air (LA) sebagai maskapai low cost merupakan dua (2) armada nasional yg paling pesat pertumbuhan armada pesawat barunya saat ini. Belum lagi penambahan pesawat di maskapai lainnya, seperti Citilink, Batavia Air, Wings Air, dan sebagainya.
Namun maskapai penerbangan punya masalah lain, yaitu kekurangan awak pesawat, seperti juga di dunia. Masing-masing jenis pesawat mempunyai standar jumlah awak kabin tersendiri, misalnya pesawat B 737 jenis apapun harus mempunyai awak kabin rata-rata 4 set (masing-masing 1 pilot, 1 co pilot, 1 purser dan 5 pramugari). Jadi 1 pesawat dibutuhkan 32 orang crew. Apakah maskapai dapat megejar kebutuhan awak kabin selancar memesan pesawat?
GA dan LA termasuk anak perusahaannya (Citilink dan Wings Air) di tahun 2015 saat kebijakan ASEAN Open Sky di berlakukan, akan banyak menggunakan pesawat baru dengan usia di bawah 7 tahun. Dari segi pesawat sebenarnya kedua maskapai penerbangan utama Indonesia tersebut akan siap merebut pasar regional, bersaing dengan misalnya Air Asia dari Malaysia.
Namun kendala muncul di sektor kebandarudaraan. Hampir semua bandara utama, seperti Soekarno Hatta (CGK), Surabaya (SUB), Medan (MES), Ngurah Rai (DPS), dan lain lain yang sudah melebihi daya tampung sampai 2 kali lebih saat ini.
Pertanyaan lainnya: di manakah pesawat-pesawat sebanyak itu harus mendarat dan parkir? Beberapa terminal bandara memang sedang di renovasi dan dibangun, seperti Surabaya, Denpasar, Balikpapan, Medan dan lain-lain namun landasan pacu tidak ditambah, alias hanya satu (1). Artinya keterlambatan dan keselamatan penerbangan bisa bertambah buruk mengingat jumlah pesawat terus bertambah. Apalagi jika terjadi gangguan di landasan, seperti ada pesawat tergelincir/ mogok di sepanjang landasan atau landasan dibersihkan karena rubber deposit sudah membahayakan, dan lain-lain maka banyak penerbangan akan tertunda.
Selain itu kepadatan bandara menyebabkan perawatan pesawat terhambat yang berakibat pada keterlambatan penerbangan, contohnya di CGK dan DPS. Pesawat GA di CGK jika mengalami gangguan serius, khususnya di saat kepadatan penerbangan, dan harus diperbaiki di hanggar Garuda Maintenance Facility (GMF). Pesawat harus menunggu taxiway (jalan penghubung antara landasan pacu dengan apron/tempat parkir pesawat) kosong, agar pesawat bisa ditarik masuk ke hangar. Umumnya otoritas bandara baru akan memberikan izin di atas pukul 21.00 di mana kepadatan di bandara berkurang. Bayangkan jika peswat esoknya harus terbang pada pukul 05.00 tentu kemungkinan besar akan terlambat.
Dari sisi ground handling, munculnya self handling yang banyak digunakan oleh maskapai murah juga jadi masalah, jika kita bicara keselamatan penerbangan. Peralatan yang mereka gunakan tidak standar. Banyak tangga pesawat yang ditempelkan ke pesawat secara manual dengan di dorong oleh 1 - 2 orang. Tangga jenis ini sangat rawan terguling dan merusak pesawat jika roboh tertiup angin atau salah menempelkan pada pintu pesawat.
Dari sisi SDM, baik regulator, awak pesawat dan bandara termasuk ATC sangat kurang. Padahal kebutuhan terus membesar dengan datangnya berbagai pesawat baru dan ini sangat membahayakan keselamatan penerbangan jika regulator tidak tegas dan cerdas. Dalam pelarangan terbang oleh Uni Eropa tempo hari, salah satu yang harus dipenuhi oleh regulator Indonesia, dalam hal ini DKUPPU, adalah inspektor DKUPPU karena mereka nilai sangat kurang dan itu yang menjadi salah satu penyebab amburadulnya keselamatan penerbangan Indonesia kala itu.
Langkah Cerdas yang Harus Dilakukan
Sebagai negara di mana pasar industri penerbangannya terus tumbuh, kiranya perlu ada sinkronisasi/ harmonisasi kebijakan dan aksi antara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (DJU), INACA (Indonesia Air Carrier Association), PGHI (Persatuan Ground Handling Indonesia), PT Angkasa Pura (AP) I dan PT Angkasa Pura (AP) II. Ingat otoritas penerbangan kita pernah menjadi yang terburuk di dunia saat semua pesawat dengan kode registrasi PK yang dikeluarkan oleh DJU dilarang terbang melintas di Uni Eropa.
Jika tidak ada langkah cerdas dari Kementerian Perhubungan (DJU) sebagai regulator dan Kementrian BUMN sebagai pemilik sebagian besar bandara utama dan maskapai penerbangan, maka berkembangnya industri penerbangan bisa menjadi bom waktu yang maha dahsyat dari segi keselamatan penerbangan. Padahal ASEAN Open Sky Policy 2015 sudah hampir datang. Kehadiran armada pesawat baru tidak akan membuat Indonesia unggul paska diberlakukannya ASEAN Open Sky 2015 jika kondisi regulator, bandara, ground handling, SDM tidak kunjung berubah. Kita perlu pimpinan regulator yang cerdas, berani dan gila demi keselamatan dan majunya penerbangan Indonesia. Salam.
*) Agus Pambagio adalah pemerhati kebijakan publik dan perlindungan konsumen.
(vit/vit)
Langganan:
Postingan (Atom)